Sinyal Populer – Raksasa teknologi asal Asia Tenggara, Grab Holdings, baru saja mengumumkan langkah korporasi yang mengejutkan pasar global. Pada Maret 2026, Grab secara resmi menyepakati akuisisi bisnis Foodpanda di Taiwan dari tangan Delivery Hero. Nilai transaksinya pun tidak main-main, yakni mencapai US$ 600 juta atau setara dengan sekitar Rp 10 triliun. Langkah ini menjadi tonggak sejarah baru karena menandai ekspansi pertama Grab ke luar kawasan Asia Tenggara.
Grab Masuk Taiwan Akuisisi Foodpanda Rp 10 Triliun
Selama satu dekade terakhir, Grab telah mendominasi pasar ride-hailing dan pengantaran makanan di negara-negara seperti Indonesia, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Namun, Taiwan menjadi wilayah kesembilan sekaligus pintu gerbang pertama bagi Grab untuk membuktikan taringnya di Asia Timur.
CEO dan Co-Founder Grab, Anthony Tan, menyatakan bahwa masuknya Grab ke Taiwan adalah “langkah alami”. Menurutnya, keahlian Grab dalam mengelola logistik pengiriman yang kompleks di kota-kota padat dengan lalu lintas tinggi di Asia Tenggara sangat relevan dengan karakteristik perkotaan di Taiwan yang memiliki kepadatan penduduk tinggi.
Mengapa Taiwan dan Mengapa Sekarang?
Taiwan bukan sekadar pasar baru; negara ini memiliki ekosistem digital yang sangat matang. Dengan populasi sekitar 23 juta jiwa dan daya beli yang tinggi, Taiwan menawarkan potensi pendapatan yang menggiurkan. Menariknya, sebelum akuisisi ini terjadi, pasar pengantaran makanan di Taiwan didominasi oleh dua pemain besar: Foodpanda (dengan pangsa pasar sekitar 52%) dan Uber Eats (sekitar 48%).
Langkah Grab ini muncul setelah rencana akuisisi serupa oleh Uber Eats terhadap Foodpanda Taiwan pada tahun 2024 sempat terganjal masalah regulasi antimonopoli. Dengan masuknya Grab, persaingan di pasar Taiwan diprediksi akan kembali seimbang, menghindari monopoli tunggal oleh Uber Eats, sekaligus memberikan opsi layanan yang lebih variatif bagi konsumen di sana.
Rincian Transaksi dan Target Operasional
Akuisisi senilai Rp 10 triliun ini akan dilakukan secara tunai. Grab menargetkan transaksi ini akan rampung sepenuhnya pada paruh kedua tahun 2026, menunggu persetujuan dari otoritas regulasi Taiwan. Setelah proses selesai, Grab berencana untuk segera beroperasi di 21 kota di seluruh Taiwan.
Tantangan terbesar berikutnya adalah proses migrasi. Grab menargetkan perpindahan seluruh ekosistem Foodpanda—mulai dari pengguna, mitra merchant, hingga mitra pengemudi—ke dalam aplikasi Grab pada awal tahun 2027. Perusahaan juga optimis bahwa operasional di Taiwan akan memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan (EBITDA) grup mulai tahun 2028.
Dampak bagi Peta Persaingan Global
Bagi Delivery Hero (induk perusahaan Foodpanda), penjualan aset di Taiwan merupakan bagian dari tinjauan strategis untuk memperkuat struktur permodalan dan fokus pada pasar lain yang lebih menguntungkan. Sementara bagi Grab, ini adalah pembuktian bahwa mereka siap bertransformasi dari pemain regional menjadi raksasa teknologi global yang kompetitif.
Dengan mengandalkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk efisiensi rute dan pengalaman pengguna yang telah teruji, Grab berambisi menjadikan Taiwan sebagai salah satu pasar paling menguntungkan setelah Singapura. Kehadiran Grab di Taiwan bukan hanya soal bisnis pengantaran makanan, melainkan potensi integrasi layanan lain seperti finansial dan logistik di masa depan.
